Secara umum sebagian besar data
warehouse dikembangkan dengan teknologi lama, yaitu bentuk direct data access.
Dewasa ini data warehouse sudah menggunakan arsitektur Service Oriented
Architecture(SOA) yang menyediakan akses data melalui middleware (akses tidak
langsung). Penelitian ini bertujuan tidak hanya mengoptimalkan SOA dalam data
warehouse, tapi juga mengintegrasikan kebutuhan sistem informasi eksekutif
dalam strukturdata warehouse. Metode pengembangan data warehouseini akan
menggunakan pendekatan Business Life Cycle.
Latar
Belakang
Tipe informasi strategis merupakan
informasi yang terintegrasi dan bersifat strategis karena dibutuhkan untuk
keputusan manajemen yang berdampak pada keberlangsungan suatu lembaga
pendidikan.Penggunaan data operasional harian sebagai sumber informasi
eksekutif tidak memberikan nilai yang memadai, hal ini dikarenakan data
operasional memiliki volume yang besar dan tidak memiliki format atau struktur
yang sesuai dengan kebutuhan informasi eksekutif yang ingin digunakan. Pihak
manajemen eksekutif telah memiliki sistem informasi eksekutif yang membantu
untuk menentukan kebijakan, sistem informasi eksekutif yang dimaksud masih menggunakan
bentuk akses data secara langsung (direct access) dengan DBMS sehingga memiliki
tingkat modularitas yang rendah, terikat pada legacy system dan memiliki
keamanan yang bergantung penuh pada software DBMS. Sebagai solusi dari
permasalahan tersebut, diperlukan sebuah model data warehouse akademik yang
memungkinkan manajemen data yang lebih efektif sebagai komponen sistem
informasi eksekutif yang menghasilkan informasi strategis dengan cepat dan
akurat. Untuk mengantisipasi kebutuhan akses informasi oleh end application
yang berbeda-beda, dan independen terhadap jenis DBMS, model distribusi akan
menggunakan pendekatan service oriented architecture (SOA), secara khususnya
dalam bentuk web services. Dengan pendekatan SOA, layanan penyediaan informasi akan
memiliki skalabilitas, keamanan dan modularitas yang lebih baik.
Eksekutif
Dari
sudut pandang organisasi, eksekutif ialah orang atau kelompok orang yang
memiliki kewenangan administratif atau pengawasan dalam suatu organisasi.
Umumnya merupakan manajer senior yang membuat perencanaan dan kebijakan
perusahaan. Eksekutif memiliki 5 fungsi utama, yaitu merencanakan (planning),
mengorganisasikan (organizing), menyusun staf (staffing),
mengarahkan(directing), dan mengendalikan (controlling).
Executive
Information System
Disebut juga sebagai Executive Support
System (ESS) merupakan salah satu bentuk sistem informasi yang disusun dari
banyak sumber data dalam bentuk summary yang dipergunakan oleh pihak manajemen
senior untuk melakukan monitor performance, assessment dan pengembangan
strategi bisnis . Untuk memenuhi fungsinya, EIS memiliki karakteristik sebagai
berikut :
1. dibuat secara spesifik untuk seorang
eksekutif.
2. akan digunakan langsung oleh
eksekutif tanpa perantara.
3. mampu melakukan proses ekstrak,
menyaring (filter), menyingkat dan melacak “critical data”.
4. mengakses dan mengintegrasikan data
internal dan eksternal.
5. bersifat user friendly. Format data
yang disediakan oleh EIS harus memenuhi kebutuhan pihak eksekutif. Berikut
adalah karakteristik data yang harus didukung oleh EIS:
1. Highly summarized data
2. Drill down dan drill up.
3. Integrasi data dari basis data yang
berbeda – beda.
4. Trend jangka panjang
5. Dapat mengakses data eksternal
6. Informasi yang disampaikan dalam
bentuk faktor penentu kesuksesan (critical success factors)
Data
warehouse
Data warehouse merupakan jantung dan
pondasi dari semua proses EIS karena memiliki satu sumber data terintegrasi
dengan tingkat granularitas yang tepat . Data warehouse juga dapat
didefinisikan dengan dua asumsi implisit, yaitu :
1. Sebuah database yang mendukung sistem
pendukung keputusan dan dimaintain secara terpisah dari database operasional
perusahaan
2. Sebuah database yang mendukung
pemrosesan informasi dengan menyediakan platform yang terintegrasi dan data
historis untuk melakukan analisis. Proses-proses dalam pengembangan data
Warehouse ialah ETL
(Extract-Transform-Loading). Extract ialah seluruh proses yang berikaitan
dengan pengambilan dan pengumpulan data (termasuk data dari luar yang
dibutuhkan, seperti kode prefix telepon daerah). Transform ialah proses
penyiapan data agar sesuai dengan kebutuhan seperti pembersihan, decoding dan
integrasi. Loading adalah proses penyimpanan dan pengorganisasian data pada
struktur data warehouse yang telah ada.
Gambar 1. Proses
pengembangan dan pemanfaatan data warehouse [4]
Data warehouse memiliki karakteristik sebagai
berikut:
1. Subject oriented
2. Integrated
3. Time variant
4. non volatile
SOA (Service Oriented Architecture)
SOA merupakan hasil evolusi dari
arsitektur berbasis komponen, distributed object protocol, dan framework
seperti .NET atau .COM. SOA telah memungkinkan proses rapid deployment, business
agility dan reuse. SOA bukanlah secara eksklusif berbicara teknologi saja, dan
tidak hanya terbatas pada web service, namun dapat dianggap sebagai kombinasi
dari consumer dan service yang berkolaborasi dan didukung oleh kumpulan kaidah
batasan, prinsip dan standar .
SOA memiliki 3 komponen dasar yaitu :
1.Consumer
2.Service
3.Intermediaries
Hubungan dari komponen ini dapat dilihat pada gambar
berikut:
Gambar 2. Hubungan komponen dalam SOA [5]
SOA yang dikembangkan dengan baik harus
memenuhi beberapa prinsip dasar, yaitu:
1. Loose Coupling
2. Interoperability
3. Reusability
4. Discoverability
5. Governance
Web Service
Web service merupakan salah satu
implementasi teknologi SOA. Sebagai intermediate antara consumer dan service,
digunakan teknologi akses web baik berupa HTTP, SMTP, FTP atau BEEP (Blocks
Extensible Exchange Protocol). Arsitektur web service dapat dilihat dalam 4
layer service protocol stack[6].
Gambar 3. Web service protocol stack [6]
Metodologi Business Dimensional
lifecycle
Pengembangan data warehouse yang
disesuaikan untuk kebutuhan bisnis dapat menggunakan pendekatan business life
cycle. Salah satu pendekatan yang diusulkan oleh Ralph Kimball, ialah
mengintegrasikan pengembangan dari 3 sudut pandang berbeda, yaitu teknologi,
data dan aplikasi dari pendekatan bisnis. Diagram berikut menggambarkan urutan
dari kegiatan yang akan dilakukan untuk mendesain, membuat dan mengimplementasikan
sebuah data warehouse yang efektif.
Gambar 4. Business
dimensional lifecycle
Kerangka Konsep
Hasil yang diharapkan ialah
terimplementasi nya model data warehouse yang lebih efektif, efisien,
fleksibel, dengan skalabilitas dan keamanan tinggi dalam memenuhi kebutuhan
analisa data eksekutif.
Kerangka konsep di atas dapat
digambarkan dengan diagram sebagai berikut :
Gambar 5.
Kerangka konsep
Kerangka konsep diatas dilandasi atas
kebutuhan akan data warehouse yang akan digunakan sebagai sumber data untuk
system informasi eksekutif dan penggunaan lain seperti informasi akademik untuk
mahasiswa. Model data warehouse yang dimaksud harus skalabel (mudah dikembangkan
dan diperluas) serta memudahkan pihak pengembang aplikasi. Berdasarkan kondisi
riil, dimana data operasional telah disimpan dalam database, dan ketersediaan
legacy EIS, penelitian ini akan mengkorporasikan teknologi data warehouse dan
model service oriented architecture berupa web service dalam proses
pengembangan prototipe. Model yang dimaksud merupakan sebuah data warehouse
yang strukturnya dikembangkan secara spesifik untuk keperluan analisa. model
tersebut akan menggunakan bentuk distribusi web service yang akan meningkatkan
skalabilitas dan fleksibilitas penyebaran informasi. Hasil akhir berupa
prototipe model data warehouse dengan metode distribusi web service akan
melalui tahap testing ( user acceptance) dan implementasi untuk digunakan.
Hipotesis
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka
berpikir yang telah dikemukakan peneliti menduga akan hasil yang didapat dari
penelitian, yaitu:
Hipotesis pertama:
H0: Diduga model data warehouse
dimensional dengan star join approach merupakan struktur yang sesuai untuk
penelitian ini.
H1: model data warehouse star join
memiliki kelebihan dalam respon query yang lebih baik dan berorientasi pada
kebutuhan informasi.
Hipotesis kedua:
H0: Diduga penggunaan Service Oriented
Architecture merupakan model distribusi data warehouse yang meningkatkan
skalabilitas dan fleksibilitas pemanfaatan data warehouse.
H1: model data warehouse ini
memanfaatkan middleware berupa web service sebagai penengah antara sumber data
dengan aplikasi pengguna, sehingga tidak ada kontak langsung dengan sumber data.
Ini berarti aplikasi pengguna tidak perlu mengetahui arsitektur warehouse yang
digunakan. Perubahan teknologi atau arsitektur data warehouse tidak
mempengaruhi aplikasi. Format data yang standar (XML) mempermudah desain dan pengembangan
aplikasi yang akan mengakses data warehouse.
Instrumentasi
Instrumentasi utama dari penelitian
deskriptif kualitatif ialah sang peneliti sendiri. Dalam hal ini peneliti akan
melakukan langkah-langkah berikut:
1. Wawancara dengan semua key person
terkait.
2. Identifikasi sistem terkomputerisasi
yang tersedia, yaitu Infrastruktur, system informasi eksekutif, dan sistem
database operasional. Untuk pelaksanaan pengembangan prototype dan testing,
akan digunakan alat bantu dan komponen berupa DBMS MySql, Apache, SqlYog,
WSF/PHP, Ms Office, Toad, Oracle server, SQL architect, Mondrian-Wabit dan
Geany.
Arsitektur sistem dan testing
Arsitektur data
Arsitektur berikut menggambarkan
stuktur, hubungan, dan arus data dalam sistem data warehouse yang akan dikembangkan.
Gambar 6. Rancangan arsitektur
data
Arsitektur Infrastruktur
Arsitektur berikut menggambarkan
hubungan infrastruktur untuk sistem data warehouse yang akan dikembangkan.
Gambar 7. Rancangan arsitektur infrastruktur.
Testing
Testing yang akan dilakukan ialah white
boxtesting. Teknik ini mengacu pada pelaksanaan uji coba sistem dengan
pengetahuan internal dari sistem itu sendiri. Analisa akan dilakukan dengan
melakukan
pemeriksaan code, struktur, dan test
case. Testing struktur data warehouse akan memanfaatkan Mondrian-Wabit,
sedangkan testing arsitektur distribusi data akan dilakukan dengan pemanggilan
fungsi web service dari script PHP dan aplikasi vb.net.
Proses ETL Data Warehouse
Data warehouse yang telah dikembangkan
akan dipopulasi dengan data. Berikut ialah kerangka proses ETL yang dilakukan:
Gambar
8. Proses ETL data warehouse
Pengembangan Model Distribusi Web
Service
Model distribusi data warehouse yang
akan dikembangkan berbasis web service dengan framework WSF/PHP. Pola kerja
arsitektur dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 9. Arsitektur web service dan data warehouse
Web service dikembangkan dalam bentuk
file PHP dengan format yang disesuaikan dengan framework. Untuk prototipe ini,
dikembangkan contoh 6 service. Jumlah dan isi service ditentukan oleh kebutuhan
informasi yang dibutuhkan oleh EIS yang dapat ditambahkan kemudian. Web service
pada penelitian ini dapat diakses menggunakan SOAP (Simple Object Access
Protocol) dengan transport layer http. Tiap client yang mengakses harus membuat
instance dari kelas WSClient dan mengirim XML format request. Untuk dapat
digunakan aplikasi desktop, sebuah consumer bertindak sebagai intermediate
untuk mengembalikan format XML.
Implikasi Penelitian
Aspek manajerial
Dari sisi manajerial, pemanfaatan data
warehouse dengan distribusi web service memberikan beberapa perubahan pada
proses bisnis analisa data. Pihak manajemen dapat langsung menganalisa
informasi yang disediakan data warehouse, ini memberikan peningkatan kualitas
informasi yang dijadikan basis pengambilan keputusan.
Pihak manajemen juga dapat mengurangi
campur tangan pengembang EIS dari akses skema data yang tidak berhak. Tanggung
jawab pengembangan dan web service menjadi terpisah dari EIS.
Aspek sistem
Dari sisi sistem, keuntungan utama ialah
adanya data warehouse yang terpisah dari data operasional, sehingga
meningkatkan kesederhanaan proses retrieve data dan peningkatan kinerja sistem.
Skalabilitas dari sistem menjadi lebih baik, karena jika ada perubahan
teknologi atau perubahan struktur pada sisi data warehouse, tidak akan
mempengaruhi aplikasi pengguna (tidak perlu dilakukan perubahan). Penggunaan
web service sebagai intermediate antara data warehouse dan aplikasi pengguna
meningkatkan modularitas dan fleksibilitas dari data yang disajikan. Aplikasi
yang memanfaatkan data tidak perlu terkoneksi langsung dengan database, dan
tidak terikat pada bentuk legacy dari koneksi yang ada.
Jenis aplikasi yang memanfaatkan data
tidak tertutup hanya pada EIS, namun pada aplikasi lain yang perlu menampilkan
informasi yang terkait (misalnya informasi HSK online untuk mahasiswa). Lebih
lanjut, penggunaan web service yang bertindak sebagai logic layer (atau
business layer) memudahkan pengembangan aplikasi, karena aplikasi hanya perlu
memanggil service yang telah disediakan. Aturan dan ketentuan untuk mengakses
data menjadi berubah, dimana aplikasi EIS tidak boleh mengakses data warehouse
secara langsung.
Kesimpulan
Berdasarkan pengembangan yang telah
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sebuah data warehouse secara khusus untuk
kepentingan analisa akan memberikan beberapa kelebihan berikut:
1. Model data warehouse dengan star join
approach merupakan struktur data warehouse yang relative mudah diadaptasi
sesuai dengan kebutuhan analisa data.
2. Peningkatan skalabilitas dan
fleksibilitas. Dengan menggunakan web service sebagai perantara antara data
warehouse dengan aplikasi pengguna, terjadi peningkatan skalabilitas dan
fleksibilitas (Pengembang EIS tidak perlu memiliki akses langsung data
warehouse).
3. Penyusunan laporan yang lebih
efektif. Dengan adanya data warehouse, pihak pengembang EIS tidak perlu
mengakses langsung data operasional dan menarik data dari puluhan tabel
relasional.
4. Memudahkan penemuan “pola” baru.
Dengan model data warehouse dimensional, end user dapat dimudahkan untuk
menemukan pendekatan baru melakukan analisis yang sebelumnya tidak mudah
ditemukan jika data masih dalam bentuk relasi operasional.
Saran
Setelah melaksanakan penelitian, peneliti
memiliki beberapa saran yang berkaitan dengan sisi manajemen, sistem, dan studi
lanjutan.
1. Dari sisi manajemen, data warehouse
yang terbentuk dapat di pergunakan secara optimal bila ada maintenance dan
pengembangan, sesuai dengan siklus hidup sistem, oleh karena itu diperlukan
susunan dan pembagian kewenangan yang jelas untuk tugas itu.
2. Dari sisi sistem, untuk meningkatkan
kualitas dari kebijakan pihak eksekutif, model data warehouse yang ada dapat
dikembangkan, baik dari sisi jumlah laporan, maupun penambahan star join baru
yang dapat mengikut sertakan aspek-aspek tambahan dalam evaluasi pendidikan.
Daftar Pustaka
Joko Christian, “MODEL DATA WAREHOUSE DENGAN SERVICE ORIENTED
ARCHITECTURE UNTUK MENUNJANG SISTEM INFORMASI EKSEKUTIF”,
2010, http://pascasarjana.budiluhur.ac.id/wp-content/uploads/J-Christian_TM_Vol2No2.pdf
(diakses tanggal 15 Oktober 2014)
Rizal Abdullah
2KA12
17113868









Tidak ada komentar:
Posting Komentar